Hak Cipta adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak hasil ciptaannya dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Sejarah perkembangan hak cipta di Indonesia sama seperti di luar negeri. Perkembangan hak cipta itu dipengaruhi oleh ilmu dan kemajuan teknologi. Namun landasannya tidak berubah. Berbeda dengan merek dagang, di Indonesia tidak ada ketentuan yang mewajibkan pendaftaran ciptaan untuk mendapatkan hak cipta. Meskipun demikian, pendaftaran dapat dilakukan secara sukarela. Bagi pencipta dan pemegang hak cipta yang mendaftarkan ciptaannya, dapat menjadikan surat pendaftaran ciptaannya, sebagai alat bukti awal di pengadilan bila di kemudian hari timbul sengketa mengenai ciptaannya tersebut.

Pasal 5 ayat 1 menyatakan:

  1. Orang yang namanya terdaftar dalam daftar umum ciptaan pada direktorat jendral, atau;
  2. Orang yang namanya disebut dalam ciptaan atau diumumkan sebagai pencipta pada suatu ciptaan;

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat memiliki system pendaftaran untuk Hak Cipta, akan tetapi, guna memenuhi ketentuan ditetapkan bahwa untuk memperoleh perlindungan atas Hak Cipta, pendaftaran tersebut haruslah bersifat sukarela dan tidak dianggap seperti suatu kewajiban. Prinsip itu tercantum dalam UU Hak Cipta Indonesia.

Simbol Hak Cipta -©- biasanya digunakan untuk mengidentifikasi pemegang Hak Cipta dan mengingatkan masyarakat bahwa karya tersebut memperoleh perlindungan hak Cipta. Pemegang Hak Cipta dapat mencamtumkan tanda ini pada karya cipta mereka walaupun tidak ada sama sekali kewajiban mengenai hal ini. Keuntungan yang diperoleh dari pendaftaran dimaksudkan untuk membantu membuktikan kepemilikan. Ketidak mampuan untuk membuktikan kepemilikan secara meyakinkan sangat menentukan dalam kasus Hak Cipta di Indonesia. Suatu kasus menarik yang berkaitan dengan sengketa kepemilikan Hak.

Penjelasan umum tersebut menyimpulkan bahwa pendaftaran bukan sarat untuk sahnya (diakui) suatu hak cipta, melainkan hanya untuk memudahkan suatu pembuktian bila terjadi sengketa. Orang yang mendaftarkan Hak Cipta untuk pertama kali tidak berarti sebagai pemilik hak suara yang sah karena bilamana ada orang lain yang dapat membuktikan bahwa itu adalah haknya maka, kekuatan hukum dari suatu pendaftaran ciptaan tersebut dapat dihapuskan. Pembatalan dapat dimintakan melalui pengadilann dengan surat gugatan yang ditandatangani pemohon sendiri atau kuasanya. Hal yang penting lagi dari pendaftaran ini adalah dengan pendaftaran diharapkan dapat memberikan semacam kepastian hukum serta lebih memudahkan dalam pengalihan haknya.

Pendaftaran itu tidak hanya semata mengandung arti untuk memberikan alat bukti yang kuat, akan tetapi menciptakan hak kebendaan. Hak kebendaan atas suatu benda untuk umum terjadi pada saat pendaftaraan dilakukan  selama pendaftaran belum terjadi, hak hanya mempunyai arti terhadap pihak pribadi dan umum belum mengetahui perubahan status hukum dari benda. Pengakuan dari masyarakat baru terjadi pada saat milik didaftarkan. Dengan pendaftaran terbitlah sifat hak kebendaan dan terhadapnya akan melekat cirri-ciri kebendaan, yang berbeda dengan hak perorangan. Pendaftaran dimasudkan diselenggarakan oleh departemen yang dapat dilihat oleh setiap orang. Mengenai cara pendaftaran akan diatur tersendiri dan diserahkan pembuatannya kepada menteri kehakiman.

 

Pencipta dan Pemegang Hak Cipta

Yang digolongkan oleh UUHC No.19 Tahun 2002 sebagai pencipta dan pemegang hak cipta dapat dirinci antara lain:

  1. Pencipta
  2. Pemerintah
  3. Pegawai Swasta
  4. Pekerja Lepas (Freelancers)
  5. Negara
  6. Pemegang Hak Cipta Potret
  7. Beberapa Pencipta

Ditetapka oleh UUHC No.19 Tahun 2002 bahwa pencipta atau penerima hak (kedua-duanya pemegang Hak Cipta) mempunyai hak Eksklusif untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Atau, member izin kepada orang lain untuk melakukan pengumuman dan memperbanyak ciptaan yang dipunyai, tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan yang diatur oleh undang-undang yang berlaku.

Sehubungan dengan hak-hak pencipta untuk mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya, terdapat sejumlah hak untuk melakukan perwujudan yang berupa;

  1. Hak untuk mengumumkan yang berarti pencipta atau pemegang hak cipta berhak mengumumkan untuk pertama kali suatu ciptaannya.
  2. Hak untuk mengumumkan dengan cara memperdengarkan ciptaan lagu yang direkam, misalnya kepada public secara komersial .
  3. Hak untuk menyiarkan suatu ciptaan dibidang seni atau sastra atau ilmu pengetahuan dalam bentuk karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel.
  4. Hak untuk member izin atau melarang orang lain tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan karya film dan program computer yang bersifat komersial.

 

 

 

Sumber:

Saidin, S.H., M. Hum. Aspek Hukum dan Kekayaan Intelektual. Rajagrafindo. Jakarta. 1997

Lindsey dkk, Tim, Prof., B.A., LL.B., BLitt, Ph.D. Suatu Pengantar Hak Kekayaan Intelektual. P.T Alumni. Bandung. 2005.