Sejarah Hak Paten

Hak paten adalah hak oktroi yang telah ada sejak abad XIV dan XV, contohnya dinegara italia dan inggris. Sifat pemberian hak ini pada waktu itu bukan bukan ditunjukkan atas suatu temuan (uitvinding) namun diutamakan untuk menarik para ahli dari luar negeri dengan maksud agar para ahli menetap di negara-negara yang mengundangnya agar mereka mengembangkan keahlian masing-masing dinegara si pengundang dan bertujuan untuk memajukan warga/penduduk dinegara yang bersangkutan. Jadi hak paten atau hak oktroi itu bersifat sebagai semacam “izin menetap”. Jadi berbeda dengan pemakaian pengertian istilah itu pada dewasa ini. Pada abad XVI diadakan peraturan pemberian hak-hak paten/Oktroi terhadap hasil temuan (uitvinding) yaitu dinegara-negara Venesia, Inggris, Belanda, Jerman, Australia, dsb.

Pengartian

Hak paten adalah bagian dari hak milik intelektual, yang termasuk kedalam katagori hak paten adalah hak milik perindustrian (industrial property rigshts). Hak milik intelektual itu sendiri adalah merupakan bagian dari benda, yaitu benda tak berwujud (benda immaterial). Pengertian benda secara judiris ialah segala sesuatu yang dapat menjadi obyek hak. Sedangkan yang dapat menjadi obyek hak itu tidak hanya benda berwujud tetapi juga benda tidak berwujud.

Paten ialah hak khusus yang diberikan kepada seseorang atas permohoman kepada orang lain kepada orang yang menciptakan sebuah produk baru, cara kerja baru, perbaikan baru dari produk atau dari cara kerja. Paten diberikan untuk melindungi invesi dibidang teknologi. Paten diberikan untuk jangka waktu yang terbatas dan tujuannya adalah untuk mencegah pihak lain, termasuk para inventor independent dari teknologi yang sama, menggunakan invensi tersebut dalam jangka waktu pertindungan paten, supaya inventror (pemegang paten) mendapat manfaat ekonomi yang layak atas invesinya. Sebagai gantinya pemegang paten harus mempublikasikan semua rincian invesinya supaya pada saat berakhirnya pertindungan paten, informasi berkaitan dengan invesi tersebut tersedia secara bebas bagi khalayak. Kebanyakan paten mendapat perlindungan selama 16-20 tahun.

Sebuah debat yang terus berlanjut melibatkan masalah pematenan obat-obatan. Di satu sisi, perusahaan obat mungkin memiliki sedikit intensif terhadap invensi produk baru tanpa adanya perlindungan paten dan hak eksklusif yang melekat padanya sering mengakibatkan naiknya harga obat. Di negara-negara berkembang, dengan tingkat pendapatan negara yang masih rendah daripada negara-negara industri, pematenan obat-obatan merupakan suatu masalah yang nyata, yang telah menyebabkan beberapa negara (mis: India) sama sekali mengelak memberikan perlindungan paten dibidang obat-obatan.

Tentang Paten

“laten (latent) adalah kata dalam bahasa latin yang berarti terselubung. Sedangkan lawan dari kata laten adalah “paten (patent)” yang berarti tebuka. Arti terbuka dalam patent adalah berkaitan dengan invensi yang dimintakan paten. Semua rahasia yang berkaitan dengan invensi tersebut harus diuraikan dalam sebuah dokumen yang sisebut spesifikasi paten. Pada tahap pengumuman, informasi mengenai invensi yang diajukan paten tersebut, diumumkan kepada public dengan cara menempatkannya pada berita resmi paten.

Segala macan invemsi dapat dipatenkan, dengan syarat invensi tersebut berguna dan memang belum ada dalam lapangan teknologi yang bersangkutan. Senyawa kimia, mesin, proses pembuatan, bahkan jenis makhluk yang baru sekalipun dapat dipatenkan.

Hak yang diperoleh melalui paten adalah hak khusus untuk menggunakan invensi tersebut yang telah dilindungi paten serta melarang pihak lain melaksanakan invensi tersebut tanpa persetujuan dari pemegang paten. Oleh karena itu, pemegang paten harus mengawasi haknya agar tidak dilanggar oleh pihak lain.

Sebelum memutuskan untuk mengajukan permohonan paten, inventor harus mempertimbangkan terlebih dahulu keuntungan dan kerugian dari perlindungan paten tersebut. Untuk memperoleh paten inventor harus mengungkapkan seluruh rahasia invesinya termasuk contoh bagaimana sebaiknya menjalankan invensi tersebut tersebut yang tertuang dalam spesifikasi paten yang diajukan.  Jika inventor tidak berniat untuk mengungkapkan seluruh rahasia invesinya. Sebagai alternative, inventor dapat mencari bentuk perlindungan lain, misalnya dengan rahasia dagang.

Keuntungan dan Kerugian Paten

Ada 4 keuntungan system paten jika dikaitkan dengan peranannya dalam meningkatkan perkembangan teknologi dan ekonomi.

  • Paten membantu menggalakkan perkembangan teknologi dan ekonomi suatu negara:
  • Paten membantu menciptakan suasana yang kondusif bagi tumbhnya industri-industri local;
  • Paten membantu perkembangan teknologi dan ekonomi negara lain denan fasilitas lisensi;
  • Paten membantu tercapainya alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang.

Kerugian paten adalah berkaitan dengan biaya paten yang relative mahan dan jangka waktu perlindungan yang relative singkat, yaitu 20 tahun untuk paten biasa dan 10 tahun untuk paten sederhana. Selain itu, tidak semua invensi dapat dipatenkan menurut undang-undang paten yang berlaku.

Dibandingkan dengan paten, biaya pengurusan rahasia dagang relatif murah. Hal itu disebabkan rahasia dagang tidak perlu didaftarkan. Jangka waktu monopolinya juga tidak ada batasnya bergantung kepada pemilik rahasia dagang dapat menjaga kerahasiaan invensinya tersebut. Kerugian rahasia dagang adalah berkaitan dengan upaya untuk menjaga kerahasiaan informasi tersebut. Jika informasi tersebut diketahui pihak lain, perlindungan rahasia dagang berakhir dan semua orang dapat menggunakannya. Kerugian lainnya adalah berkaitan dengan pembuktian hak apabila terjadi sengketa dengan pihak lain dimana pemilik rahasia dagang dapat memenuhi kesulitan mempertahankan haknya didepan pengadilan mengingat rahasia dagang tidak didaftarkan.

Sistem paten merupakan titik temu dari berbagai kepentingan yaitu:

  • Kepentingan pemegang paten
  • Kepentingan para investor dan saingannya
  • Kepentingan para konsumen
  • Kepentingan masyarakat umum

Sumber:

Saidin, S.H., M. Hum. Aspek Hukum dan Kekayaan Intelektual. Rajagrafindo. Jakarta. 1997

Lindsey dkk, Tim, Prof., B.A., LL.B., BLitt, Ph.D. Suatu Pengantar Hak Kekayaan Intelektual. P.T Alumni. Bandung. 2005.