Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) pada umumnnya berhubungan dengan perlindungan penerepan ide dan informasi yang memiliki nilai komersial. HaKI merupakan kekayaan pribadi yang dapat dimiliki dan diperlakukan sama dengan bentuk-bentuk kekayaan lain. Misalnya kekayaan intelektual dapat diperjual belikan seperti buku. HakI dapat disewakan dalam kurun waktu tertentu dimana pihak penyewa membayar sejumlah uang kepada pihak yang menyewakan hak tersebut untuk menggunakan kekayaan intelektual tersebut. Perjanjian seperti itu disebut ‘lisensi’.

Banyak hal yang dapat dilindungi oleh HaKI, termasuk Novel, karya seni, fotografi, musik, rekaman suara, film, piranti lunak, dan piranti keras computer, situs internet, desain untuk barang-baranga yang diproduksi secara missal. Makhluk hidup hasil rekayasa genetika, obat-obatan baru, rahasia dagang, pengetahuan teknik, karakter serta merek. Meskipun demikian hukum HaKI tidak diperluas terhadap setiap situasi dimana setiap orang yang melakukan usaha atau sumber daya ke dalam sesuatu yang melibatkan pengeluaran akal budi, pengetahuan, keahlian atau tenaga. Bersasarkan hukum di Indonesia dan UU banyak negara, ciptaan dan invensi hanya akan dilindungi jika diciptakan dan invenci tersebut memenuhi syarat-syarat tertentu yang telah diatur dalam UU.

Benda Berwujud dan Tidak Berwujud

Hak milik intelektual merupakan bagian dari benda, yaitu benda tak berwujud (benda immaterial). Benda dalam kerangka hukum perdata dapat diklasifikasikan kedalam berbagai kategori. Pengelompokkan benda kedalam klasifikasi benda berwujud dan tidak berwujud. Benda immateril yang berupa hak itu dapatlah kita contohkan seperti hak tagih, hak atas bunga uang, hak sewa, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak atas benda berupa jaminan, hak kekayaan intelektual.

Konsekuensi lebih lanjut dari batasan hak kekayaan intelektual ini adalah terpisah antara hak kekayaan intelektual itu dengan hasil material yang menjadi bentuk jelmaannya (benda berwujud/benda materil). Suatu contoh yang dapat dikemukakan misalnya hak cipta dalam bidang ilmu pengetahuan (berupa hak kekayaan intelektual) dan hasil material yang menjadi jelmaannya adalah buku, begitu pula temuan dalam bidang hak paten (hak kekayaan intelektual), dan hasil benda materil yang menjadi jelmaannya adalah minyak pelumas, misalnya. Jadi yang dilindungi dalam kerangka hak kekayaan intelektual adalah haknya, bukan jelmaan dari hak tersebut. Jelmaan dari hak tersebut dilindungi oleh hukum benda dalam kategori benda materil (benda berwujud).

Pengelompokkan hak kekayaan intelektual itu lebih lanjut dapat dikategorikan dalam kelompok:

  1. Hak cipta (copy rights), terdiri atas:
  2. Hak cipta
  3. Hak yang berpadu padan dengan hak cipta
    1. Hak kekayaan perindustrian (industrial property rights)

Hukum HaKI adalah suatu fenomena yang relativebaru bagi hampir semua negara, tidak hanya negara-negara berkembang. Hukum HaKI terpaksa (dan biasanya gagal) mengikuti perkembangan teknologi yang dibawa oleh investor dan pencipta. Para pembuat UU diseluruh dunia berjuang untuk mengikuti perkembangan baru dibidang teknologi computer dan internet sebagai usaha untuk melindungi kepentingan pencipta. Para hakim juga sering berjuang menyesuaikan ciptaan dan invesi yang baru kedalam prinsip-prinsip dasar dan tradisional dari HaKI. Hukum HaKI sering menampung mengenai apa yang muncul dan selalu berubah-ubah dan mengatur antara apa yang dapat dan apa yang tidak dapat dilindungi, oleh karena itu hukum HaKI adalah satu dari cabang hukum yang paling banyak dikritik.inisiatif untuk mengadakan pembaharuan terus diusulkan oleh para ahli diseluruh dunia.

Sumber:

Saidin, S.H., M. Hum. Aspek Hukum dan Kekayaan Intelektual. Rajagrafindo. Jakarta. 1997

Lindsey, Tim, Prof., B.A., LL.B., BLitt, Ph.D. Suatu Pengantar Hak Kekayaan Intelektual. P.T Alumni. Bandung. 2005.